Dykha Andika


widget

Kamis, 12 Desember 2013




Kisah nyata


Suami peduli,nyawa pun ia korbankan.

Disuatu desa,hiduplah keluarga sederhana
Sang suami yang buruh serabutan,istrinya ibu rumah tangga biasa.
Mereka hidup sederhana,mereka dikaruniai seorang putri “elisa” namanya. Sang suami bekerja diterik ganasnya sinar mata hari,pagi tiba hingga petang menjelang.
Dari mencangkul sawah,kuli angkut,buruh kelapa.apa pun ia kerjakan demi keluarga tercinta.
Hidup rukun dengan sanak saudara maupun tetangga.ditengah pekerjaannya ia tak pernah lupa pada sang penciptaya.
Sosok seorang yang perlu ditiru,dan bisa jadi panutan
Suatu hari,tepatnya hari minggu.disiang hari ia membantu dimasjid meminta amal untuk dana pembangunan memperbaiki masjid.tak seperti biasanya ia meminta maaf kepada sanak saudara dan tetangga lewat pengeras suara setelah meminta amal
  “apa bila saya punya kesalahan kepada kalian,saya mohaon maaf.apa bila ada tutur kata yang tidak berkenan dihati kalian semua” ujarnya dia.dilanjutkan dengan menjabat semua tangan sisekelilingnya.ia pun pamit untuk melanjutkan sebuah pekerjaan rutinnya,yaitu memanjat sebuah pohon sawu.ia pun manjat secara perlahan.tak berselang berapa lama ia terjatuh tak tersadarkan diri.serenta warga yang ada disekitar tempat kejadian berkerumun dan mengangakat memberikan pertolongan.pada saat itu aku “dika” berada ditempat kejadian dan ikut membantu sebisa aku.
Beberapa lama kemudian inisiatif warga,dia dibawa kepuskesmas setempat,sesampainya dipuskesmas dia diperiksa oleh perawat yang ada.muka berlumuaran darah,dada trasa sesak didada,kaki trasa sakit ujarnya.selang oksigen pun dipasang tapi tak dapat membantu ia untuk bernapas.merintih kesakitan,menyebut asma tuhannya,meminta maaf kepada keluarga tercinta,solawat demi solawat,lantunan ayat suci alquran ia ucapkan.memohon kepadanya untuk membantu mengurangi rasa sakitnya.
   Lebih 1 jam ia disana tanpa ada perubahan yang jelas.perawat paun menyarankan untuk dibawa kerumah sakit umum untuk di ronsem agar lebih akurat pemeriksaanya.tragisnya ditengah pasien yang kesakitan,pihak puskesmas dengan tegas tidak mau membawanya menggunakan ambulan yang ada,padahal keluarganya mau membayar biaya perjalanan “ pak,tolong bawakan kerabat saya kerumah sakit menggunakan ambulan disini” pihak rumah sakit pun menjawab “ kami tidak bisa membawanya karna dia tidak dirawat disini” apakah itu alasan yang tepat untuk tidak menolong seseorang yang kesakitan?dimana hati nuraninya?begitu tegakah terhadap pasien dari keluarga miskin?dengan tolakan itu,warga menghubungi tetangga yang lain untuk membawakan mobil bak terbuka.
  Mobil pun datang,ia dibawa kerumah sakit dikota.sesampainya ia disana ia dironsem.diperiksa ternyata tidak ada yang patah,tapi kedua kakinya tidak bisa dirasakan olehnya.
  Keluarga pun baercampur aduk pikirannya.kuatir dengan keaadaannya,dokter disana menyarankan untuk dibawa kerumah sakit umum yang dad dokter spesialis saraf.
Kebisaan orang awam,hanya percaya dengan dukaun desa yang tak berijazah tanpa pengetahuan ilmu akesehatan yang ia miliki.tak lama kemudian,ia dibawa pulang dan memanggil dukun tersebut.dukun pun datang,dengan doa-doa yang kami tidak mengetahui maanfatnya,ia pun dipijit oleh dukunnya.bukannya sembuh ia merintih kesakitan menahan sakit yang dirasakan saat dipijit.
Dukun pun tak mampu,ia menyarankan untuk membawanya kerumah sakit.pihak keluaraga pun saling menyalahkan,kenapa tidak dibawa kerumah sakit mengikuti saran dokter yang tadi.histeris istrinya.ia yang sakit masih mampu menenangkan istrinya,meskipun sakit yang luar bias ia rasakan.
Pihak keluaraga berembauk dan membawanya kerumah sakit.aku pun maembantu untuk menangkat dari rumahnya menuju jalan raya untuk dibw kemobil.air mata menetes dari raut wajah yang kusut dan merintih kesakitan.
Sesampainya dirumah sakit yang dituju,singkat cerita rumah sakit yang dituju ternyata tidak mampu.ia pun dirujuk kerumah sakit yang lebih besar.
Sesampainya dirumah sakit yang lebih besar,dokter menyarankan untuk dioperasi,karna saraf pada kakinya terkena atau rusak.keluarga tambah panik dengan pernyataan dokter.
Biaya yang minim menjadi persoalan.kemana peran pemeintah untuk rakyaknya?keluarga pasien angkat tangan,berserah diri kepada keadaan.
Sesampainya dirumah,tiap hari banyak sanak saudara dan tetangga yang perihatin untuk sekedar melihat dan mendoakan.banjir air mata dikala itu,aku pun seorang mahasiswa kesehatan tidak mampu berbuat apa-apa.karna minimnya ilmu yang aku punya.seminggu lamanya ia bertahan ditengah sakitnya yang ia derita.minggu pagi terdengar berita duka dari keluarganya.
Sungguh malang nasibmu,kami bergotong royong untuk membuat acara pemakaman.beberapa jam berlalu.pemakaman pun siap.kami membawanya ketempat peristrirahatanya untuk yang terahair.

Saudaraku,semoga kamu mendapatkan perlindungannya.semoga kamu selalu disisinya.ditempatkan ditempat yang mempunyai derajat yang tinggi.selamat jalan saudaraku.kami akan merindukanmu dan akan selalu mendoakanmu dan mengenang mu





Tidak ada komentar:

Posting Komentar