Kisah nyata
Suami peduli,nyawa pun ia korbankan.
Disuatu desa,hiduplah keluarga
sederhana
Sang suami yang buruh
serabutan,istrinya ibu rumah tangga biasa.
Mereka hidup sederhana,mereka
dikaruniai seorang putri “elisa” namanya. Sang suami bekerja diterik ganasnya
sinar mata hari,pagi tiba hingga petang menjelang.
Dari mencangkul sawah,kuli
angkut,buruh kelapa.apa pun ia kerjakan demi keluarga tercinta.
Hidup rukun dengan sanak saudara
maupun tetangga.ditengah pekerjaannya ia tak pernah lupa pada sang penciptaya.
Sosok seorang yang perlu
ditiru,dan bisa jadi panutan
Suatu
hari,tepatnya hari minggu.disiang hari ia membantu dimasjid meminta amal untuk
dana pembangunan memperbaiki masjid.tak seperti biasanya ia meminta maaf kepada
sanak saudara dan tetangga lewat pengeras suara setelah meminta amal
“apa bila saya punya kesalahan kepada
kalian,saya mohaon maaf.apa bila ada tutur kata yang tidak berkenan dihati
kalian semua” ujarnya dia.dilanjutkan dengan menjabat semua tangan
sisekelilingnya.ia pun pamit untuk melanjutkan sebuah pekerjaan rutinnya,yaitu
memanjat sebuah pohon sawu.ia pun manjat secara perlahan.tak berselang berapa
lama ia terjatuh tak tersadarkan diri.serenta warga yang ada disekitar tempat
kejadian berkerumun dan mengangakat memberikan pertolongan.pada saat itu aku
“dika” berada ditempat kejadian dan ikut membantu sebisa aku.
Beberapa lama
kemudian inisiatif warga,dia dibawa kepuskesmas setempat,sesampainya
dipuskesmas dia diperiksa oleh perawat yang ada.muka berlumuaran darah,dada
trasa sesak didada,kaki trasa sakit ujarnya.selang oksigen pun dipasang tapi
tak dapat membantu ia untuk bernapas.merintih kesakitan,menyebut asma
tuhannya,meminta maaf kepada keluarga tercinta,solawat demi solawat,lantunan
ayat suci alquran ia ucapkan.memohon kepadanya untuk membantu mengurangi rasa
sakitnya.
Lebih
1 jam ia disana tanpa ada perubahan yang jelas.perawat paun menyarankan untuk
dibawa kerumah sakit umum untuk di ronsem agar lebih akurat
pemeriksaanya.tragisnya ditengah pasien yang kesakitan,pihak puskesmas dengan
tegas tidak mau membawanya menggunakan ambulan yang ada,padahal keluarganya mau
membayar biaya perjalanan “ pak,tolong bawakan kerabat saya kerumah sakit
menggunakan ambulan disini” pihak rumah sakit pun menjawab “ kami tidak bisa
membawanya karna dia tidak dirawat disini” apakah itu alasan yang tepat untuk
tidak menolong seseorang yang kesakitan?dimana hati nuraninya?begitu tegakah
terhadap pasien dari keluarga miskin?dengan tolakan itu,warga menghubungi
tetangga yang lain untuk membawakan mobil bak terbuka.
Mobil pun datang,ia dibawa kerumah sakit dikota.sesampainya ia disana ia
dironsem.diperiksa ternyata tidak ada yang patah,tapi kedua kakinya tidak bisa
dirasakan olehnya.
Keluarga pun baercampur aduk pikirannya.kuatir dengan keaadaannya,dokter
disana menyarankan untuk dibawa kerumah sakit umum yang dad dokter spesialis
saraf.
Kebisaan orang
awam,hanya percaya dengan dukaun desa yang tak berijazah tanpa pengetahuan ilmu
akesehatan yang ia miliki.tak lama kemudian,ia dibawa pulang dan memanggil
dukun tersebut.dukun pun datang,dengan doa-doa yang kami tidak mengetahui
maanfatnya,ia pun dipijit oleh dukunnya.bukannya sembuh ia merintih kesakitan
menahan sakit yang dirasakan saat dipijit.
Dukun pun tak
mampu,ia menyarankan untuk membawanya kerumah sakit.pihak keluaraga pun saling
menyalahkan,kenapa tidak dibawa kerumah sakit mengikuti saran dokter yang
tadi.histeris istrinya.ia yang sakit masih mampu menenangkan istrinya,meskipun
sakit yang luar bias ia rasakan.
Pihak
keluaraga berembauk dan membawanya kerumah sakit.aku pun maembantu untuk
menangkat dari rumahnya menuju jalan raya untuk dibw kemobil.air mata menetes
dari raut wajah yang kusut dan merintih kesakitan.
Sesampainya
dirumah sakit yang dituju,singkat cerita rumah sakit yang dituju ternyata tidak
mampu.ia pun dirujuk kerumah sakit yang lebih besar.
Sesampainya
dirumah sakit yang lebih besar,dokter menyarankan untuk dioperasi,karna saraf
pada kakinya terkena atau rusak.keluarga tambah panik dengan pernyataan dokter.
Biaya yang
minim menjadi persoalan.kemana peran pemeintah untuk rakyaknya?keluarga pasien
angkat tangan,berserah diri kepada keadaan.
Sesampainya
dirumah,tiap hari banyak sanak saudara dan tetangga yang perihatin untuk
sekedar melihat dan mendoakan.banjir air mata dikala itu,aku pun seorang
mahasiswa kesehatan tidak mampu berbuat apa-apa.karna minimnya ilmu yang aku
punya.seminggu lamanya ia bertahan ditengah sakitnya yang ia derita.minggu pagi
terdengar berita duka dari keluarganya.
Sungguh malang
nasibmu,kami bergotong royong untuk membuat acara pemakaman.beberapa jam
berlalu.pemakaman pun siap.kami membawanya ketempat peristrirahatanya untuk
yang terahair.
Saudaraku,semoga
kamu mendapatkan perlindungannya.semoga kamu selalu disisinya.ditempatkan
ditempat yang mempunyai derajat yang tinggi.selamat jalan saudaraku.kami akan
merindukanmu dan akan selalu mendoakanmu dan mengenang mu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar